Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mekanisasi Pertanian || Teknologi Pemanenan

Mengakar.com - Teknologi Pemanenan adalah alat mesin panen yang dapat mempermudah pekerjaan para petani dan menyingkat waktu pada saat mengambil hasil panen budidaya tanaman. Teknologi panen menjadi perwujudan mekanisasi pertanian terkahir pada sub-bab ini, hal ini disebabkan karena pokok dari panca tani hanya sampai pemanenan. Lalu bagaimana dengan kegiatan pasca panen? itu menjadi tugas pokok dari teknik pangan yang akan dibahas lain waktu. Jadi, berikut ini materi terakhir pada Matakuliah Mekanisasi Pertanian yaitu Teknologi Pemanenan.

Perkembangan Alat Panen

    Teknologi panen sama halnya dengan teknologi mekanisasi pertanian lainnya, dimana selalu berkembang seiringan kemajuan teknologi globalisasi dan kebutuhan primer setiap individu. Hal ini bertujuan untuk dapat memanen hasil pertanian dengan cepat, efektif, effisien dan tidak menimbulkan kerusakan pada hasil panen. Jika pada Zaman dahulu proses pemanenan dilakukan secara konveksional dan tradisional dengan banyak membutuh tenaga kerja, maka hingga di era sekarang sudah banyak teknologi modern yang berkembang mulai dari teknik menggunakan alat sensor, traktor, DGPS, atau drone otomatis. Semua teknologi itu dikembangkan hanya untuk mempermudahkan pekerjaan petani dalam proses pemanenan agar bisa segera diperolah dan didistibusikan.
    Disisi lain, tidak semua teknologi modern ada kalanya memiliki sisi positif dan negatifnya. Jika dilihat dari sisi posistif kebanyak teknologi pemanenan modern sudah banyak menyingkat waktu dengan sangat cepat, sehingga proses pendistribusian dan pemasaran hasil panen akan lebih cepat ke tangan konsumen. Namun, teknologi modern akan sangat membutuhkan modal yang mahal, kemahiran dalam mengoperasikan, dan bergantung pada bahan bakar besin atau listrik. sehingga, sangat tidak cocok jika diterapkan pada wilayah yang terpencil, atau pada lahan pertanian yang sempit karena akan memakan modal yang sangat banyak dibandingkan oleh teknik konveksional atau tradisional. 

Tipe -Tipe Mekanisme Kerja Alat Panen

    Alat panen pada dasarnya terbagi menjadi 4 tipe mekanisme kerjanya, yaitu Memotong, Mengikat, Menggoyah, dan Memetik. Ke-4 tipe mekanisme kerja ini digunakan pada jenis komoditas tanaman yang berbeda sehingga, teman-teman perlu tau kebutuhan, kemampuan dan jenis buah atau hasil produksi pada setiap tanaman. berikut ini adalah penjelasan ke-4 tipe kerja alat panen:

1. Memotong (Reaper)

    Tipe kinerja alat panen ini menggunakan cikal bakal dari penggunaan alat panen tradisional yaitu Clurit tau Arit. dimana alat ini akan mengumpulkan sebanyak kuantitas genggaman tanagn lalu memotongnya. Alat ini banyak digunakan pada sistem pemanenan Padi, gandung, dan Bunga Matahari, karena ketiga komoditas ini memiliki karatersitik yaitu memotong batang utuh saat proses pemanenan. berikut ini adalah gambaran dari alat panen Reaper.
                             

2. Mengikat (Binder)

        Pada alat Binder ini yaitu memiliki bagian  pemotong pada satu hingga empat alur dengan dilengkapi  alat pengangkut tanaman yang akan digunakan pada mengangkat setiap per ikatan sebelum dijatuhkan atau dimasukkan ke dalam suatu karung. Mekanisme pengikatan pada alat ini dengan metode berat, dimana tanaman yang sudah dipotong akan dikumpulkan diatas tali yang direntangkan ketika sudah terkumpul dengan berat 1-2 kg akan langsung diikat secara otomatis oleh rotary pada bagian alat panen Binder. berikut ini adalah kenampakan alat Binder, yaitu:

3. Menggoyah (Shake)

    Sistem kerja alat panen ini sesuai dengan penamanaanya dengan cara digoyah, tidak ada spesialnya dari pola sistem kerjanya.  Pada alat Shake selain menggoyah, ala ini dilengkapi dengan Tabung, parabola atau jaring-jaring. Bagian Pelengkap tersebut bertujuan untuk menghindari terjadinya tubrukan buah yang lunak terhadap tanah, sehingga tidak akan menimbulkan kerusakan fisik pada hasil panen. Alat panen tipe Shake banyak digunakan pada buah-buah yang memiliki pohon tinggi, begerombol dan memiliki daging buah yang lunak. Sehingga, dengan sistem menggoyahkan akan lebih cepat ketimbang pada sistem memetik. beikut ini gambaran alat mesin panen Shake.
                   

4. Memetik (Pick)

    Sistem kerja alat panen ini sama seperti pada mekanika tradisional yakni dengan memetik. Alat ini merupakan perwujudan manusia yang bertengan mesin sehingga akan lebih cepat dalam proses pemetikkan dalam setiap pohon. Tipe Alat panen memetik umunya digunakan pada komoditas tanaman tahunan buah-buahan. Ada beberapa seri pada alat panen pada mekanisme kerja yaitu Mesin petik yang menggunakan manusia, sehingga alat mesin hanya memberikan tempat pijakan atau tangga, kemudian sistem alat panen petik kedua ada yang menggunakan capitan dengan dilengkapi sensor dan robotik dalam sistem, serta ada mekansime alat panen petik yang menggunakan rotary atau berputar pada daun, sehingga proses pemanenan akan lebih cepat dn beragam tingkat kematangannya. Berikut ini adalah alat panen sistem memetik.
                            

Mekanisasi Alat Panen Modern Di Indonesia

    Sejak memasuki era globalisasi bidang pertanian di Indonesia sudah mulai berkembang cukup pesat dalam menghasilkan produksi komoditas pangan . Hal ini disebabkan pertanian Indonesia mulai terbuka dan belajar dengan mengikuti sistem modern oleh beberapa negara di Asia yang sudah maju, seperti Israel, Jepang, China dsb. Namun, hanya baru terdapat beberapa komoditas yang sudah menerapkan alat panen modern yang super canggih yakni komoditas Padi, Jagung, dan Tebu. Ketiga komoditas tersebut, mulai fokus dikembangkan secara pesat karena adanya kebutuhan dan desakan dari permintaan ketersediaan pangan oleh masyarakat Indonesia. Berikut ini adalah penjelasan alat Panen modern pada komoditas tersebut, antara lain:

A. Komoditas Padi


    Padi menjadi komoditas utama di beberapa negara Asia terutama Indonesia, Sebab komoditas padi menjadi bahan pangan pokok oleh masyarakat. Pada kegaiata budidaya, Padi menggunakan sistem pola tanam serentak yakni menanam serentak dan memanennya pun dilakukan serentak. Apabila terlambat atau terlalu cepat akan menghasilkan kualitas beras  yang kurang. Oleh sebab itu, permasalahan kegiatan pemanenan membutuhkan waktu yang singkat tenaga kerja yang banyak. Adanya permasalahan tenaga kerja buruh tani di Indonesia memaksakan paa petani harus berinovai dengan memandang sistem panen pada negara di asia dengan Komoditas Padi.
    Dengan demikian, manfaat dari alat mesin panen padi dapat mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja dengan meningkatkan kapasitas dan efisiensi mekanika panen. Selain memerpsingkat kerja, dengan adanya alat panen modern padi dapat menekan biaya pengeluaran panen per hektarnya jika dibandingkan dengan cara tradisional. Namun, terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan berikut, yaitu:
  • Unjuk kerja dan upah dari buruh panen dengan cara tradisional
  • Harga, biaya perawatan, umur, kinerja, dsb, dari setiap mesin
  • Ukuran petakan lahan
  • Tinggi malai padi, kemudahan rontok
  • Tingkat kekeringan dan daya dukung tanah pada saat panen
  • Cara pengumpulan, pengeringan, transportasi, perontokan dan pengeringan gabah setelah pemotongan
    Mekanisme yang banyak digunakan pada mesin panen padi yakni menggunakan sistem kerja alat panen Memotong (Reaper) dan Mengikat (Binder). Mekanisme itu bekerja untuk meminimalkan bulir padi yang jatuh selain pada wadah, sehingga dibutuhkan memotong padi hingga ke batangnya. Kemudian, mekanisme mengikat akan membantu petani dalam mengumpulkan dan menghitung dalam setiap ikatannya. Umumnya dalam satu ikatan beratnya 1-2 kg.

B. Komoditas Jagung

    
    Komoditas Jagung di Indonesia menjadi alternatif bahan pangan pokok setelah padi. Selain bahan pangan pokok, komoditas jagung banyak diolah menjadi tepung dan pakan ternak, Oleh sebab itu kebutuhan Jagung di Indonesia termasuk yang cukup tinggi. Pada proses pemanena, Jagung dapat dipanen dengan dua sistem pola yakni sistem pola Manual dan Mekanis. Pada pola panen manual biasannya alat panen yang dirancang dengan dasar menkanisme sistem tradisional yakni hanya mengambil tongkol jagung saja, tanpa mengolah biomassa tanaman. Namun, pada pola Mekanis yang terbilang cukup modern yakni melakukan pemanenan tongkol jagung sekaligus mengolah biomassa sekaligus. Sehingga, alat panen Jagung Pola mekanis lebih digandrungi oleh pertanian di negara-negara maju di seluruh dunia.
   Pada alat panen Jagung, memiliki mekanisme kerja alat panen dua jenis yaitu Memotong (Reaper) dan Memetik (Pick). Pada alat mesin panen memetik hanya mengambil tongkol jagung dan bagian biomassa jagung hanya akan ditinggalkan saja hingga proses pengolahan lahan selanjutnya. Sedangkan, pada alat panen Jagung mekanisme Memotong  memiliki sistem memotong batang dan merontokkan biji jagung dari tongkol, kemudian sisa-sisa batang dan tongkol jagung akan dicacah lebih kecil dan disebar menjadi bahan organik ataupun dikumpulkan di dalam wadah  untuk menjadi bahan pakan ternak. 
      

C. Komoditas Tebu


    Komoditas tebu menjadi salah satu bahan pangan pokok yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat di dunia, sehingga tidak dipungkiri banyaknya permintaan produk hasil dari komoditas tebu yang terus meningkat setiap harinya. Peningkatakan kebutuhan Gula dari tebu menjadikan para petani kebun tebu harus mempercepat dalam menghasilkan produksi tebu di setiap negara khususnya di Indonesia. Pada sistem pemanenan tebu modern para petani menggunakan 2 mekanisme kerja panen yaitu, Wholestalk harvester dan Chopper harvester. Berikut ini penjelasannya:

1. Wholestalk Harvester, yaitu memotong tebu pada pangkal batang dekat permukaan tanah, kemudian dibawa ke belakang dan disusun di atas guludan. Dengan demikian, tebu hasil panen masih berupa lonjoran batang tebu (utuh) yang diletakkan di atas permukaan tanah. Tebu hasil panen dengan cara seperti ini sering tercampur kotoran (tanah) pada saat pemuatannya ke alat angkut yang akan membawanya ke pabrik.

2. Chopper Harvester, yaitu memotong tebu berupa potongan-potongan berukuran pendek. Tebu yang sudah dipotong pada pangkal batangnya akan dipotong lagi menjadi potongan-potongan lebih pendek yang disebut billet dengan ukuran 20-40 cm.









Farhan Dwi F.S
Farhan Dwi F.S Saya seorang Mahasiswa yang suka dengan menulis "Content Creator" sejak duduk dibangku SMP hingga saat ini, Jika dulu saya menulis sebuah karya fiksi berupa Cerpen dan Sajak Puisi. Kali Ini saya akan membuat sebuah hal baru menganai artikel semi-Ilmiah seputar Kesahatan Mental, Agriculture, dan Teknologi. Terimakasih Semua, salam kenal.

Posting Komentar untuk "Mekanisasi Pertanian || Teknologi Pemanenan"